Menikmati
Keindahan Akhir Pekan Tanpa Polusi
oleh: Shella Natalia
Udara
pagi selalu terasa sejuk dan menenangkan jika kita berada di luar kota-kota
besar, yang lingkungannya sudah tercemar dengan berbagai macam polusi udara
maupun air. Salah satu wisata liburan yang menyenangkan disetiap akhir pekan
adalah pulau, dimana kita dapat merasakan semilir angin sejuk dibawah terpaan
sinar sang surya. Sekaligus bermain ditengah hamparan pasir putih yang bersih. Bagi
penduduk ibu kota, tentu saja lokasi pulau favorit untuk dikunjungi adalah
Kepulauan Seribu. Namun masih banyak pulau di Kepulauan Seribu yang belum dikenal,
bahkan oleh masyarakat Jakarta. Apa yang menjadi penyebabnya?
Pada
kesempatan liburan akhir pekan kali ini, saya dan segenap teman seangkatan
program studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia mengadakan tour menuju salah satu pulau dalam gugusan
Kepulauan Seribu. Yaitu Pulau Pari. Pulau yang memiliki air bening kehijauan
ini relatif dekat dengan Pulau Tidung, dan Pulau Pramuka yang merupakan pusat
pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu. Perjalan yang ditempuh pun cukup cepat
yaitu hanya dengan 11/2 jam dari Muara Angke, Jakarta Utara.
Setibanya
di Pulau Pari, saya dan teman-teman turun dari kapal yang telah membawa kami
selama satu setengah jam itu. Untuk perjalanan kali ini, kami menggunakan jasa tour& travel yang menawarkan paket
murah untuk penginapan dua hari satu malam di Pulau Pari. Sembari menunggu
pembagian rumah, kami berfoto dan menikmati udara segar di Pulau Pari yang
sangat sulit kami dapatkan di kota besar khususnya Jakarta.
Rumah-rumah
yang disewakan pun ternyata merupakan rumah milik masyarakat setempat yang
disewakan pada pengunjung. Rumah yang saya dapatkan pun cukup nyaman, dengan
jumlah kamar kurang lebih sekitar 6 kamar yang terbagi di dua lantai dan
fasilitas AC/pendingin ruangan disetiap kamarnya. Menurut
ketua RW setempat, rumah-rumah tersebut sesungguhnya adalah rumah milik para
penduduk sekitar yang disewakan untuk tambahan penghasilan. Penduduk Pulau Pari
sendiri sesungguhnya berprofesi sebagai nelayan ikan dan budidaya rumput laut,
namun semenjak terjadi wabah limbah yang mencemari air disekitar pulau
tersebut, perlahan pekerjaan harian para penduduk sekitar musnah dan beralih
menjadi destinasi wisata hingga saat ini.
Setelah
beristirahat beberapa menit, kami memutuskan untuk berjalan mengitari pulau. Terik
matahari yang ditemani oleh semilir sejuk angin pantai siang itu membuat kami
bersemangat untuk menjelajahi pulau tersebut. Ternyata penduduk setempat juga
memiliki inovasi baru dalam menyewakan tempat tinggal, karna selain menyediakan
penginapan mereka juga menyediakan 1 unit sepeda untuk masing-masing individu
yang menginap di pulau tersebut. Sepeda tersebut dapat kita gunakan sebagai
sarana transportasi untuk berkeliling pulau.
Menurut
keterangan penduduk sekitar, terdapat 4 buah pantai yang mengelilingi Pulau
Pari ini. Nama-nama pantai tersebut adalah Pantai Pasir Perawan, Pantai Kresek,
Pantai Lippi, dan Pantai Bintang. Konon katanya, terdapat cerita menarik
dibalik nama-nama dari masing-masing pulau tersebut.
Pantai
Pasir Perawan merupakan salah satu pantai yang paling terkenal di Pulau Pari. Selain
karna keindahan pasir nya, pantai ini juga digunakan sebagai lokasi penanaman
bakau oleh para pengunjung wisata Pulau Pari. Tak terkecuali rombongan kami
yang diberi jatah satu pohon perorang.
Perjalanan
pulang selepas menanam bakau terasa indah dan menenangkan. Setelah melihat
pemandangan hijaunya deretan pohon bakau di pantai sebelumnya, sepanjang perjalanan
kita dapat melihat banyaknya pedagang yang membuka kios-kios cinderamata yang
indah dan berwarna warni. Serta keceriaan anak kecil yang berlari-lari bahagia
di sore hari yang indah itu.
Selepas
matahari terbenam, kami diminta untuk kembali berkumpul di Pantai Kresek
sembari makan malam dan menunggu kedatangan ketua rukun warga setempat untuk
kami wawancarai mengenai potensi wisata di pulau ini. Cuaca yang sejuk
dipinggir pantai membuat malam itu terasa menyenangkan. Kami dihidangkan
santapan malam dan duduk berdampingan di karpet serta kursi yang telah
disediakan.
Pagi
hari sebelum kembali ke Jakarta, kami kembali dikumpulkan di Pantai Kresek
untuk melanjutkan pertemuan wawancara dengan ketua RW setempat yang pada malam
sebelumnya sempat berhalangan hadir. Suasana Pantai Kresek dipagi hari sangat lah
indah. Hamparan laut luas terbentang sejauh mata memandang. Air yang bersih
serta udara sejuk khas pantai terasa sangat menenangkan.
Sembari
menunggu kehadiran ketua RW setempat, kami di izinkan untuk berfoto bersama
biota laut yang ada disekitar pantai. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat
pria paruh baya tengah sibuk berada ditengah jaring-jaring yang dibentuk
semacam kolam penangkaran sekitar 50 meter dari bibir pantai. Ternyata di dalam
jaring-jaring penangkaran tersebut terdapat beberapa ekor penyu dan bintang
laut. Melihat kehadiran kami, beliau pun mempersilahkan kami untuk sekedar
berfoto sesaat bersama penyu dan bintang laut tersebut.
Tak
lama kemudian, Nurhayat selaku ketua RW setempat tiba di tempat yang telah
dijanjikan untuk kami wawancarai mengenai potensi wisata pulau pari ini.
Menurut penuturan beliau, Pulau Pari ini telah dikembangkan menjadi objek
wisata semenjak tahun 2010 dan di swadaya oleh masyarakat setempat. “Kami tidak
banyak dibantu oleh pemerintah sebagian besar adalah hasil usaha masyarakat
sekitar,” tutur nya.
Mendengar
hal tersebut, kami pun tertarik untuk mewawancarai salah seorang pemilik kios
makanan yang berada di Pantai Kresek tersebut. Beliau pun membenarkan bahwa
sebagian besar dari pengelolaan wisata pulau ini masih dikelola oleh masyarakat
tanpa campur tangan pemerintah. Masyarakat hanya berharap agar selain
berwisata, para pengunjung yang datang juga ikut menjaga kelestarian alam di Pulau
Pari ini.
Kami
pun sempat mewawancarai pihak tour&travel
mengenai minat wisatawan dalam memesan paket perjalanan wisata menuju Pulau
Pari ini. Menurut mereka, belum banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang
berkunjung ke pulau ini karna belum terangkatnya nama Pulau Pari dimata
masyarakat luar.
Hal
itu pula lah yang disampaikan oleh Ashwita, selaku dosen management Universitas
Bunda Mulia saat kami wawancarai beberapa pekan setelah kepulangan kami dari
Pulau Pari. “Kalian yang sudah pernah berkunjung kesana, seharusnya turut
mempromosikan mengenai keindahan pulau tersebut. Sehingga akan banyak yang
berkunjung dan pada akhirnya akan mengangkat nama pulau tersebut di mata
masyarakat luas.”
Sementara
menurut Supinah, selaku ketua program studi Pariwisata Bunda Mulia menuturkan, sejauh
ini usaha pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di Indonesia sudah
cukup baik. Kita hanya perlu membantu pemerintah mengembangkan dan menjaga
kelestarian alam Indonesia sebelum tangan-tangan swasta hadir dan menjadikannya
sebagai hak milik pribadi.
Kesimpulan
yang dapat saya tarik dari perjalanan wisata kali ini adalah Indonesia
merupakan salah satu negara dengan potensi wisata alam terkaya di dunia. Namun
potensi alam tersebut masih banyak yang belum tergali maksimal atau bahkan
sudah beralih tangan kepada para pemilik perusahaan swasta. Selaku masyarakat
Indonesia, mari kita jaga kelestarian alam kita dan bantu pemerintah untuk
mengembangkannya.
