Langkah
Kaki sang Jurnalis
Menjadi
seorang jurnalis bukan lah hal yang mudah untuk dilakukan, namun tentunya
pekerjaan ini juga mempunyai segudang keunikan yang akan memberikan anda
pengalaman hidup tak terlupakan. Tidak hanya cukup memiliki kemampuan membuat
berita saja namun juga kemampuan berbaur dengan orang baru, hingga sifat keingin
tahuan yang tinggi merupakan kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang
juranalis.
Hal
tersebut diungkapkan oleh Silvanus Alvin, seorang pria bertubuh tinggi tegap
kelahiran 28 tahun silam yang merupakan seorang mantan jurnalis liputan6.com.
Alvin, begitu ia kerap disapa, membagi pengalaman hidupnya saat diwawancara
oleh salah satu mahasiswa Universitas Bunda Mulia dalam sesi kelas Media
Online.
"Teman-teman
harus meyakinkan diri apakah wartawan adalah jalan kalian.” tambahnya. Kemudian
pria yang kini menjadi dosen Universitas Bunda Mulia ini membagikan pengalaman
hidupnya yang pernah menerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
untuk melanjutkan studi S2 ke University of Leicester di inggris, berkat
liputan yang ia lakukan dan mempertemukannya dengan wakil presiden Jusuf Kalla.
Pria kelahiran 9 oktober 1990 ini merupakan lulusan S1 dari Universitas
Multimedia Nusantara. Dalam perjalanan kuliahnya, beliau dikenal kritis akan
kebijakan-kebijakan perkuliahan yang dianggap kurang berkenan bagi mahasiswa.
Alvin dan 9 teman nya kemudian memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah kampus yang berisikan tentang opini-opini mahasiswa yang mereka kumpulkan dan dijadikan kumpulan berita dalam majalah. Berita yang paling ia ingat adalah mengenai kritik nya terhadap kantin kampus yang dianggap kurang sesuai jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain. Kritik ini kemudian sampai ketelinga rektor pada saat itu dan membuat Alvin bertemu langsung dengan sang rektor dan membuatnya lebih yakin untuk menjadi seorang jurnalis. Alvin menyadari seberapa besar kekuatan sebuah kritik terhadap perubahan yang akan terjadi.
Alvin dan 9 teman nya kemudian memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah kampus yang berisikan tentang opini-opini mahasiswa yang mereka kumpulkan dan dijadikan kumpulan berita dalam majalah. Berita yang paling ia ingat adalah mengenai kritik nya terhadap kantin kampus yang dianggap kurang sesuai jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain. Kritik ini kemudian sampai ketelinga rektor pada saat itu dan membuat Alvin bertemu langsung dengan sang rektor dan membuatnya lebih yakin untuk menjadi seorang jurnalis. Alvin menyadari seberapa besar kekuatan sebuah kritik terhadap perubahan yang akan terjadi.
Setelah
menempuh gelar sarjana nya, Alvin bekerja sebagai seorang wartawan detik.com
selama kurang lebih 3-4 bulan dan kemudian menerima tawaran akan prospek kerja
yang lebih menjanjikan di liputan6.com dan memutuskan untuk bekerja sebagai wartawan
selama kurang lebih 4 tahun. Sepak terjang bekerja sebagai wartawan juga tentu
telah banyak dirasakan olehnya, mulai dari membantu tim SAR untuk mengevakuasi
korban banjir, tidur didepan rumah seorang koruptor demi mendapatkan berita
hingga dipertemukan dengan wakil presiden Jusuf Kalla dalam sebuah wawancara
dan membuatnya direkomendasikan langsung oleh sang wakil presiden untuk dapat
menerima beasiswa LPDP.
"Pada awalnya saya ditugaskan untuk meliput sebuah acara penerimaan beasiswa LPDP, kemudian saya menjadi tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam." Alvin kemudian disarankan untuk mengikuti serangkaian test untuk mendapatkan beasiswa tersebut mulai dari test bahasa inggris hingga membuat essay mengenai apa yang akan diberikan untuk negara setelah menerima beasiswa tersebut. Essay tersebut dianggap cukup menarik oleh wapres Jusuf Kalla dan kemudian ia menerima rekomendasi langsung dari orang nomor 2 di Indonesia tersebut. Ia juga sangat merekomendasikan peluang beasiswa LPDP untuk para pembaca yang berminat karena akan sangat banyak keuntungan yang didapatkan dari beasiswa tersebut. Alvin kemudian memilih University of Leicester, Inggris. Alasan dibalik dipilih nya Universitas tersebut pun cukup menarik, Alvin mengaku ia memilih berdasarkan kota asal dari pemain sepak bola favoritnya yang kemudian ternyata terdaftar dalam list kampus untuk penerima LPDP.
"Pada awalnya saya ditugaskan untuk meliput sebuah acara penerimaan beasiswa LPDP, kemudian saya menjadi tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam." Alvin kemudian disarankan untuk mengikuti serangkaian test untuk mendapatkan beasiswa tersebut mulai dari test bahasa inggris hingga membuat essay mengenai apa yang akan diberikan untuk negara setelah menerima beasiswa tersebut. Essay tersebut dianggap cukup menarik oleh wapres Jusuf Kalla dan kemudian ia menerima rekomendasi langsung dari orang nomor 2 di Indonesia tersebut. Ia juga sangat merekomendasikan peluang beasiswa LPDP untuk para pembaca yang berminat karena akan sangat banyak keuntungan yang didapatkan dari beasiswa tersebut. Alvin kemudian memilih University of Leicester, Inggris. Alasan dibalik dipilih nya Universitas tersebut pun cukup menarik, Alvin mengaku ia memilih berdasarkan kota asal dari pemain sepak bola favoritnya yang kemudian ternyata terdaftar dalam list kampus untuk penerima LPDP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar